MARI PERTAJAM AQIDAH

                                                                                                                                                           Memahami Prinsip Pertengahan dalam BerislamAkidah yang lurus akan menjamin seseorang untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Kesesuaiannya dengan petunjuk Rasulullah saw akan mengantarkan hati menjadi tenang, jiwa merasa nyaman dan akal berjalan sehat. Salah satu karakter akidah Islam yang lurus adalah tawasuth atau pertengahan. Yaitu keyakinan yang berada di antara dua titik ekstrim yang berlawanan; antara ifrat (berlebihan) dan tafrith (meremehkan).

Prinsip dalam keyakinannya selalu berjalan di pertengahan, tidak meremehkan dan tidak pula berlebihan.
Prinsip tawasuth ini menjadi salah satu karakter akidah Ahli Sunnah wal Jamaah. Prinsip ini pula yang membuktikan Islam adalah agama yang mudah dan tidak ada yang sulit di dalamnya. Demikianlah kehendak yang diinginkan Allah terhadap hamba-Nya dalam menjalankan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُ الله بِكُمُ اليسر وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ العسر

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

Selain itu, prinsip tawasuth juga akan mempermudah hamba untuk berlaku adil dan istiqamah; dua perkara yang sangat mulia sekaligus sulit untuk diwujudkan dalam setiap amalan hamba. Namun meskipun prinsip Islam itu mudah, bukan berarti kita bebas mencari-cari yang mudah saja serta menafsirkan tawasuth sesuai dengan akal kita semata.

Tawasuth dalam Islam adalah prinsip baku yang telah terangkum dalam seluruh aspek ajarannya. Tolok ukurnya bukan kebiasaan, kemauan, atau pikiran golongan tertentu. Namun tolak ukurnya adalah petunjuk Nabi saw. Dalam segala sisi, baik berkenaan dengan perkara akidah, hukum, kenegaraan, kekeluargaan, hubungan dengan orang kafir, dan lainnya.

Sementara penilaian berdasarkan kebiasaan, kemauan, atau pikiran kelompok atau golongan tertentu tidak bisa menjadi ukuran. Karena sangat mungkin di antara sekian banyak ajaran Islam, dianggap ekstrim oleh sebagian orang, sementara sebagian yang lain memandangnya bagian dari kewajiban yang harus ditunaikan. Sehingga untuk mengukur sesuatu apakah layak dinilai pertengahan atau tidak, maka tetap harus dikembalikan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

“Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.” (Al-Baqarah: 143)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Imam Ath-Thabari berkata, “Allah menyebut umat Islam dengan sifat wasath karena sikap pertengahan mereka dalam beragama. Mereka tidak berlebih-lebihan seperti orang Nasrani dalam menuhankan Isa. Umat Islam tidak berkata sebagaimana yang diyakini Nasrani. Umat Islam juga tidak berlaku taqshir (mengurang-ngurangi) sebagaimana orang Yahudi yang mengubah Kitabullah, membunuh para Nabi, mendustakan Allah dan ingkar terhadap ajaran-Nya. Umat Islam adalah umat yang tawasuth dan i’tidal. Allah menyebut mereka dengan sifat itu karena sesuatu yang paling dicintai-Nya adalah yang pertengahan.” (Lihat: Tafsir Ath-Thabari, 2/8)

Di dalam banyak ayat-Nya yang lain, Allah Ta’ala menegaskan agar umat Islam selalu berpegang kepada prinsip tawasuth dalam setiap perkara bahkan dalam urusan berinfak sekalipun. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Di antara keduanya secara wajar.” (Al-Furqan: 67)

Kemudian di dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini (Islam) mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersulitnya melainkan (agama itu) akan mengalahkan dia (mengembalikan dia kepada kemudahan).” (HR. Bukhari)

Dalam memaknai hadits itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Agama Allah itu berada di antara mereka yang berlebih-lebihan dan yang suka mengurang-ngurangi. Maka hendaklah kalian berada di tengah-tengahnya. Karena sikap tersebut akan diikuti oleh orang-orang yang suka mengurang-ngurangi serta akan mengembalikan orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Ighasatul Lahfan, 1/136)

Kemudian pendapat tersebut dipertegas oleh Ibnu Mas’ud, “Mencukupkan diri pada amalan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam perkara bid’ah.” (Syarhul I’tiqad, 1/88)

Ibnu Taimiyyah berkata, “Mereka (ahlussunnah) tawasuth dalam memahami tauhid dan nama dan sifat Allah, tawasuth dalam beriman kepada Rasul dan Kitab-Nya, dalam menjalankan syariat, dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan serta dalam memahami perkara halal dan haram.” (Jawabus Shahih, 1/69)

Aktualisasi Tawasuth dalam Akidah Ahli Sunnah

Akidah Ahli Sunnah adalah akidah yang berpegang teguh kepada ketetapan Al-Qur’an dan Hadits. Akidah yang dibangun sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw dan selaras dengan pemahaman ulama salafu shalih. Seluruh konsep keyakinannya berada di antara kelompok yang melampaui batas dan kelompok yang suka meremehkan.

Contoh dalam penerapannya banyak sekali, di antaranya adalah sebagai berikut:

Dalam beriman kepada Asma’ wa Shifat

Dalam beriman kepada nama-nama dan sifat Allah ta’ala, keyakinan Ahli Sunnah berada di pertengahan antara Ahlu ta’thil dan Ahlu tamsil. Ahlu ta’thil adalah kelompok yang cenderung meremehkan dan mengingkari seluruh nama dan sifat-sifat Allah, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Sedangkan ahlu tamsil adalah kelompok yang terlalu berlebihan sehingga mereka menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, seperti yang diyakini oleh Karamiyah, Syiah dan Husyamiyah.

Ahli sunnah berada di antara keduanya, yaitu mengimani seluruh sifat yang Allah sebut bagi diri-Nya dan sesuai yang disampaikan oleh Rasul-Nya, tanpa melakukan tahrif (menyimpangkan), ta’thil (mengingkari) serta tidak melakukan takyif (mengilustrasikan) dan tamsil (menyerupakan) dengan sifat makhluk-Nya. (lihat: Majmu’ Fatawa, 3/373)

Allah berfirman: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Dalam memahami dalil janji dan ancaman

Dalam memahami dalil tentang janji dan ancaman, Ahli Sunnah berada di antara dua kelompok yang menyimpang, yaitu murji’ah yang hanya mengambil dalil-dalil tentang janji kebaikan dan meninggalkan dalil-dalil ancaman. Sehingga mereka menyatakan bahwa keimanan seseorang tidak akan terpengaruhi oleh maksiat sedikit pun. Sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, itu tidak akan berpengaruh pada kualitas imannya. Hal ini karena mereka beribadah lebih karena didasari raja’ (rasa harap) semata dan mengesampingkan sisi khauf (rasa takut).

Sedangkan kelompok yang satu lagi adalah kelompok khawarij yang berlebihan dalam melihat dalil-dalil tentang ancaman. Sehingga mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan kekal di dalam neraka. Hal ini karena mereka lebih mengedepankan rasa khauf semata dan mengabaikan sikap raja’.

Adapun Ahli sunnah dalam masalah ini bersikap adil, bersikap pertengahan antara Murji’ah dan Khawarij. Mereka menggabungkan antara dalil-dalil tentang janji dan ancaman Allah. Mereka menggabungkan antara sikap khauf dan raja’. Sehingga mereka berkeyakinan, pelaku dosa besar selain syirik adalah orang mukmin yang berkurang imannya, tidak mengafirkan mereka sedangkan hukuman di akhirat sesuai dengan kehendak Allah ta’ala semata.” (Wasithah Ahlu Sunnah, 335-339)

Allah Ta’ala berfirman:

“Barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisaa’:93)

Kemudian dalam ayat lain Allah menjanjikan ampunannya kepada seluruh hamba, firman-Nya:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)

Dalam Masalah Takdir

Dalam memahami masalah takdir, keyakinan Ahli Sunnah berada antara kelompok Jabariyah dan Qadariyah. Jabariyah adalah kelompok yang terlalu berlebihan dalam menetapkan takdir, sehingga mereka menganggap manusia tidak memiliki kehendak dalam perbuatannya dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah. Jadi bisa dibilang manusia itu seolah-olah seperti wayang yang gerakkan oleh dalangnya.

Sementara kelompok Qadariyah terlalu meremehkan persoalan takdir. Bagi mereka takdir itu tidak ada, manusia bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya semata, bebas dari takdir yang telah ditetapkan Allah.

Ahli Sunnah menetapkan bahwa Allah telah menetapkan seluruh takdir, dan Allah mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya serta bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah tetapkan. Allah Ta’ala berfirman:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwiir:28-29)

Ayat: ‘bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus’ adalah bantahan terhadap Jabariyah karena dalam ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi hamba. Kemudian pada ayat berikutnya ‘Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam’ adalah bantahan terhadap Qadariyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri tanpa ada hubungannya dengan takdir Allah. (Lihat: Syarah Ushul Khamsah, hal. 323)

Dalam memahami kedudukan sahabat

Dalam permasalahan ini Ahli Sunnah juga berada di antara dua keyakinan kelompok yang keliru, yaitu khawarij yang mengafirkan Ali bin Abi Thalib serta sebagian besar sahabat yang lain dan kelompok Syiah yang berlebihan terhadap Ali bin Abi Thalib, bahkan di antara mereka ada yang menuhankannya, sehingga mereka mengafirkan seluruh sahabat yang merampas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Keyakinan Ahli Sunnah berada di antara dua titik ekstrim tersebut. Mereka mencintai para sahabat, meridhai mereka, meyakini keadilan mereka, dan tidak mengafirkan para sahabat atau berlepas diri darinya. Namun begitu Ahli Sunnah juga tidak meyakini para sahabat bebas dari kesalahan, hanya saja dosa-dosa mereka telah diampuni oleh Allah ta’ala dan mereka telah mendapat keridhaan dari-Nya. Sehingga mereka pun disebut dengan sebaik-baik generasi umat ini. (lihat: Majmu’ Fatawa: 3/375)

Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebanyak bukit Uhud, maka tidak akan ada yang dapat menyamai satu timbangan (pahala) seorang pun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah sebagian bentuk keyakinan yang dibangun dalam akidah Ahli Sunnah, selalu berpegang teguh kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya, sehingga tidak ada satu sikap pun yang terkesan berlebihan atau terlihat cenderung mengabaikan. Keadaannya selalu berada di pertengahan antara kelompok-kelompok sesat yang ada, yaitu antara kelompok yang bersikap ghuluw (berlebihan) dan kelompok yang bersikap taqshir (meremehkan). Karena demikianlah fitrah agama Islam yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bis shawab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s